Badan Pusat Statistik (BPS) Asahan mengkhawatirkan hingga Maret 2011 harga beras tetap tidak terkendalikan. Diperkirakan harga beras akan menembus level Rp 10.000 per kilogram jika pada Maret 2011 mendatang panen raya tidak terjadi secara merata di Asahan dan Kabupaten Batubara. Kepala BPS Asahan Dwi Pranoto mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan harga beras masih cukup tinggi antara Rp8.400 –9.000 per kilogram. Pihaknya memperhitungkan harga ini telah mencapai kenaikan sebesar 20-30% dari harga beras sejak empat bulan lalu karena harga kebutuhan pokok ini terus mengalami fluktuasi kenaikan. ”Kalau kami memperhitungkan hingga Maret 2011, jika panen terjadi tidak merata, harga beras akan menembus Rp10.000 per kilo gram,”ujarnya.
BPS juga memprediksi harga beras tidak akan mengalami penurunan ke level harga semula,(harga sebelum kenaikan) apalagi mengingat situasi dan kondisi yang tengah terjadi saat ini. Menurutnya,kenaikan harga beras telah menurunkan daya beli masyarakat terutama terhadap buruh yang berpenghasilan tetap, dan pekerja di sektor-sektor non formil. Kenaikan harga beras tidak diikuti dengan peningkatan penghasilan. Dia mengkhawatirkan akibat turunnya daya beli,akan menurunkan tingkat asupan gizi makanan. Apalagi dengan mengingat kondisi ekonomi masyarakat Asahan yang masih cukup banyak dibawah rata-rata garis kemiskinan.Terutamadidaerah-daerah pesisir pantai yang hanya mengharapkan satu-satunya sumber mata pencaharian dari hasil laut.
”Kita memang belum ada survei tentang dampak kenaikan harga beras terhadap tingkat asupan makanan, tapi dampak kenaikan harga beras ini tentu saja tidak sulit untuk diprediksi. Kalau survei dilakukan pasti tidak menutup kemungkinan ada warga yang terpaksa mengurangi konsumsi asupan makanan akibat situasi harga beras yang masih terus mengalami kenaikan,”ujar dia. Dwi menyatakan, penurunan daya beli akan mengakibatkan menurunnya tingkat konsumsi beras perkapita masyarakat. Karena menurutnya berbeda halnya dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) meski berdampak kepada semua sektor, akan tetapi juga turut menaikkan tingkat pendapatan masyarakat.
Mengacu kepada hasil survei sosial ekonomi nasional (Susenas) tahun 2010,tingkat konsumsi beras per kapita masyarakat Sumatera Utara (Sumut) mencapai 134 kilogram per kapita.Jika kenaikan harga beras di Asahan tidak terkendali, tentu saja menurut dia akan menurunkan tingkat konsumsi beras perkapita.”Penurunan asupan makanan akan tidak terjadi jika pemerintah berhasil dalam program diversifikasi makanan, akan tetapi masalahnya hingga saat ini masyarakat masih bergantung kepada beras,”papar dia. Satu-satunya jalan untuk mengantisipasi penurunan tingkat asupan makanan dengan kebijakan operasi pasar murni (OPM) oleh Bulog.
Setidaknya menurut Dwi, OPM beras yang tengah dilakukan Bulog saat ini harus berlangsung hingga Maret 2011, agar harga beras setidaknya bisa bertahan di level Rp9.000 per kilo gram. Menurut dia, untuk mengantisipasi kenaikan harga beras pemkab bisa berperan dengan menyalurkan beras bersubsidi. Sementara itu disaat harga beras naik, namun renovasi ruang kerja gedung utama Kantor Bupati Asahan menelan anggaran Rp 1 miliar. DPRD Asahan mengkritik kebijakan itu.Kritikan itu diantaranya disampaikan Ketua Komisi A DPRD Asahan, Bunyaddin. Sementara harga beras naik, tapi kenapa renovasi ruang keja bupati sampai Rp1 miliar,”gerutu Bunyaddin. Demikian catatan nokia.grandong.com tentang Badan Pusat Statistik.
Senin, 21 Februari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar